Category: Uncategorized

Alasan Miryam S Haryani Membatalkan BAP Kasus E-KTP

Kali ini kasus korupsi e-ktp sedang memasuki babak yang baru dimana Miryam S haryani ternyata mencabut laporan BAP atau Berita Acara Pemeriksaan karena tekanan tertentu.

Babak baru kasus korupsi e-ktp yang masih saja belum berakhir ini ternyata memasuki babak yang baru dan menyeret nama saksi Miryam S Haryani yang merupakan mantan anggota dari Komisi II DPR RI yang mencabut laporan Berita Acara Pemeriksaan karena mendapatkan tekanan. Tentu saja ini menjadi tanda tanya besar mengenai tekanan apa yang diperoleh dan darimana tekanan itu berasal hingga terjadinya pembatalan.

Miryam S Haryani yang Merasa Tertekan di Setiap Pemeriksaan

Babak baru kasus korupsi e-ktp berlanjut dan makin banyak nama yang mulai masuk serta dipanggil oleh kejaksaan. Namun bukan itu yang menjadi viral saat ini karena masyarakat dibuat bingung dengan Miryam S Haryani yang secara tiba-tiba membatalkan BAP di persidangan yang keempat dan digelar pada tanggal 23 Maret 2017 lalu. Mantan anggota DPR dan juga seorang politikus untuk partai Hanura ini mengaku jika dirinya mendapatkan tekanan dari badan penyidik ketika menjalani pemeriksaan. Beliau mengatakan jika pernyataan yang terdapat di BAP ini hanya membuat penyidik senang atau menyenangkan mereka dengan kata lain dan beliau juga menjelaskan yang berikutnya.

Miryam mengatakan takut dan diancam oleh penyidik bandar bola sehingga pemberian jawaban yang tertulis di dalam BAP ini Cuma untuk menyenangkan mereka dan dia pun menjawab secara asal. Jadi dia tidk pernah mendapatkan yang apapun sekitar 50 juta dari ketua komisi II. Beliau pun menjawab hal ini dengan menangis kala itu. Jaksa KPK pun diminta oleh Majelis hakim dari pengadilan tipikor untuk hadir di dalam persidangan kasus korupsi e-ktp lanjutan. Sidang kelima yang berlangsung tanggal 30 Maret kemarin ini, sekitar tiga orang penyidik KPK pun hadir yaitu Damanik, Irwan Susanto dan juga Novel Baswedan yang dijadikan sebagai saksi yang akan dikonfrontir dengan keterangan Miryam.

Miryam pun mengaku di hadapan Majelis hakim pengadilan tipikor bila dirinya ternyata sempat diancam oleh penyidik senior dari KPK yang bernama Novel Baswedan dan ancaman yang diberikan padanya ini diterima ketika melakukan pemeriksaan yang pertama dirinya sebagai saksi bagi tersangka Sugiharto dan Irman. Seperti yang dilansir oleh liputan6.com, Miryam mengatakan jika bapak Novel mengatakan jika sebenarnya dirinya ini sudah hendak ditangkap di tahun 2010 silam ketika pertama kali disidak. Di pemeriksaan yang kedua, Miryam pun mengaku masih saja tertekan dengan omongan dari Novel terlebih lagi ketika pemeriksaan yang akan berlangsung di ruangan.

Pembelaan Novel Baswedan Terhadap Penyataan Miryam S Haryani

Di dalam ruangan yang berukuran 2X2 meter itu, Miryam mengaku jika ia seringkali ditinggal oleh pihak penyidik. Di pemeriksaan yang kedua, dirinya masih sangat tertekan dan juga sangat trauma dengan permbicaraan itu dan sejak pagi hingga maghrib menjelang, dirinya pun kerap kali ditinggal meskipun diberi makan. Miryam yang tak ingin lagi menunggu terlalu lama meminta kepada pihak penyidik untuk dapat memeriksanya lebih cepat lagi di pemeriksaan yang ketiga meskipun beliau mengaku masih saja merasakan tekanan dan buruknya lagi adalah, ibu Miryam ternyata sedang sakit. Kemudian tekanan masih berlanjut di pemeriksaan yang keempat dan mmebuatnya mual-mual.

Miryam mengalami mual dan mabuk sebab dirinya mencium aroma durian dari Novel Baswedan dan ini membuatnya mual, pusing serta muntah. Adanya pernyataan dari Miryam ini, Novel pun angkat bicara untuk mengatakan pembelaanya jika apa yang disampaikannya ini tidak seluruhnya benar kecuali ibunya yang sakit. Sementara pernyataan tentang Miryam yang muntah itu tidak benar dan justru Miryam terlihat sakit dan Novel memanggil dokter. Mengenai mulit yang berbau durian memang benar namun itu bukan buah durian melainkan kue rasa durian sebab durian dilarang di gedung KPK.

Sementara tentang pengancaman Miryam S Haryani memang dibenarkan sebab saksi ternyata ada di dalam penyadapan dan berbicara mengenai uang sehingga penyidik yakin beliau sering menerima uang.